BAB I
PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Karbohidrat
merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen dan oksigen.
Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah penghasil
energi di dalam tubuh. Tiap 1 gram karbohidrat yang dikonsumsi akan
menghasilkan energi sebesar 4 kkal dan energi hasil proses oksidasi
(pembakaran) karbohidrat ini kemudian akan digunakan oleh tubuh untuk
menjalankan berbagai fungsi-fungsinya seperti bernafas, kontraksi jantung dan
otot serta juga untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari – sehari.
Contoh
dari karbohidrat sederhana adalah monosakarida seperti glukosa, fruktosa dan
galaktosa atau juga disakarida seperti sukrosa dan laktosa. Jenis – jenis
karbohidrat sederhana ini dapat ditemui terkandung di dalam produk pangan
seperti madu, buah-buahan dan susu. Sedangkan contoh dari karbohidrat kompleks
adalah pati (starch), glikogen (simpanan energi di dalam tubuh), selulosa,
serat (fiber) atau dalam konsumsi sehari-hari karbohidrat kompleks dapat
ditemui terkandung di dalam produk pangan seperti, nasi, kentang, jagung,
singkong, ubi, pasta, roti dan sebagainya.
Metabolisme
mempunyai pengertian yang amat luas, yang pada prinsipnya dapat diartikan
sebagai semua reaksi kimia atau perubahan kimia yang terjadi di dalam tubuh
mahluk hidup. Metabolisme yang terjadi dalam tubuh mahluk hidup melibatkan
berbagai reaksi kimia yang saling berkaitan satu dengan yang lain yang saling
menunjang. misalnya dalam sintesis jaringan terlibat metabolisme protein yang
mempersiapkan kerangka dasar jaringan tersebut.
Kemudian terkait metabolisme karbohidrat dan lemak untuk melengkapi
komponen-komponen jaringan , disamping untuk memenuhi kebutuhan energi melalui
metabolisme energi/bioenergetik.
Kesemuanya
terkait dalam suatu keterpaduan yang serasi termasuk disini
pengendalian/kontrol sehingga semuanya dapat berjalan serasi, efektif dan
efisien bagi kelangsungan hidup mahluk tersebut . Akan amat sulit untuk
menjelaskan secara simultan, keseluruhan rangkaian yang terkait menjadi satu
tersebut. Olehnya itu didalam pembahasan metabolisme akan dibahas satu persatu,
kemudian dicoba merangkumnya utk memberikan gambaran secara simultan.
I.2
Tujuan
1. Dapat
memahami pengertian karbohidrat, metabolisme, dan metabolisme karbohidrat
2. Dapat
mengetahui macam-macam proses metabolisme karbohidrat
I.3
Rumusan Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan karbohidrat dan metabolisme karbohidrat?
2. Berapa macam proses metabolisme karbohidrat pada tubuh
manusia?
3. Bagaimana proses metabolisme karbohidrat?
BAB
II
PEMBAHASAN
II.1
Karbohidrat
Karbohidrat
merupakan bahan yang sangat diperlukan tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan di
samping lemak dan protein. Senyawa ini dalam jaringan merupakan cadangan
makanan atau energi yang disimpan dalam sel. Sebagian besar karbohidrat yang
ditemukan di alam terdapat sebagai polisakarida dengan berat molekul tinggi .
Beberapa polisakarida berfungsi sebagai penyimpan bagi monosakarida, sedangkan
yang lain sebagai penyusun struktur di dalam dinding sel dan jaringan pengikat.
Karbohidrat
merupakan komponen pangan yang menjadi sumber energi utama dan sumber serat
makanan. Komponen ini disusun oleh 3 unsur utama, yaitu karbon (C), hidrogen(H)
dan oksigen (O). Atau dengan kata lain, karbohidrat merupakan suatu senyawa
yang terdiri dari molekul-molekul karbon (C), hydrogen (H) dan oksigen (O) atau
karbon dan hidrat (H2O) sehingga dinamakan karbo-hidrat.
Pada
tumbuhan, karbohidrat disintesis dari CO2 dan H2O melalui proses fotosintesis
dalam sel berklorofil dengan bantuan sinar metahari. Karbohidrat yang
dihasilkan merupakan cadangan makanan yang disimpan dalam akar, batang, dan
biji sebagai pati (amilum). Karbohidrat dalam sel tubuh disimpan dalam hati dan
jaringan otot dalam bentuk glikogen.
Jenis
Karbohidrat
Karbohidrat
dapat dikelompokkan menurut jumlah unit gula, ukuran dari rantai karbon, lokasi
gugus karbonil (-C=O), serta stereokimia.
Berdasarkan
jumlah unit gula dalam rantai, karbohidrat digolongkan menjadi 4 golongan utama
yaitu:
1. Monosakarida (terdiri atas 1 unit gula)
2. Disakarida (terdiri atas 2 unit gula)
3. Oligosakarida (terdiri atas 3-10 unit gula)
4. Polisakarida (terdiri atas lebih dari 10 unit gula)
Berdasarkan lokasi gugus –C=O, monosakarida digolongkan
menjadi 2 yaitu:
1. Aldosa
(berupa aldehid)
2. Ketosa
(berupa keton)
Berdasarkan
jumlah atom C pada rantai, monosakarida digolongkan menjadi:
·
Triosa
(tersusun atas 3 atom C)
·
Tetrosa
(tersusun atas 4 atom C)
·
Pentosa
(tersusun atas 5 atom C)
·
Heksosa
(tersusun atas 6 atom C)
·
Heptosa
(tersusun atas 7 atom C)
·
Oktosa
(tersusun atas 8 atom C)
II.2
Metabolisme karbohidrat
Metabolisme
merupakan modifikasi senyawa kimia secara biokimia di dalam organisme dan sel.
Metabolisme mencakup sintesis (anabolisme) dan penguraian (katabolisme) molekul
organik kompleks. Metabolisme biasanya terdiri atas tahapan-tahapan yang
melibatkan enzim, yang dikenal pula sebagai jalur metabolisme. Metabolisme
total merupakan semua proses biokimia di dalam organisme. Metabolisme sel
mencakup semua proses kimia di dalam sel. Tanpa metabolisme, makhluk hidup
tidak dapat bertahan hidup.
Karbohidrat setelah dicerna di usus, akan diserap oleh
dinding usus halus dalam bentuk monosakarida. Monosakarida dibawa oleh aliran
darah sebagian besar menuju hati, dan sebagian lainnya dibawa ke sel jaringan tertentu, dan mengalami proses metabolisme
lebih lanjut. Di dalam hati, monosakarida mengalami proses sintesis
menghasilkan glikogen, dioksidasi menjadi CO2 dan H2O,
atau dilepaskan untuk dibawa oleh aliran darah ke bagian tubuh yang memerlukan.
Hati dapat mengatur kadar glukosa dalam darah atas bantuan hormon insulin yang dikeluarkan oleh kelenjar pankreas.
Kenaikan proses pencernaan dan penyerapan karbohidrat menyebabkan glukosa dalam darah
meningkat, sehingga sintesis glikogen dari glukosa oleh hati akan naik.
Sebaliknya, jika banyak kegiatan maka banyak energi untuk kontraksi otot sehingga kadar glukosa dalam darah menurun. Dalam hal ini,
glikogen akan diuraikan menjadi glukosa yang selanjutnya mengalami katabolisme menghasilkan energi (dalam bentuk energi kimia, ATP). Faktor yang penting dalam kelancaran kerja tubuh adalah
kadar glukosa dalam darah. Kadar glukosa di bawah 70 mg/100 ml disebut hipoglisemia. Adapun di atas 90 mg/100 ml disebut
hiperglisemia. Hipoglisemia yang serius dapat berakibat kekurangan glukosa
dalam otak sehingga menyebabkan hilangnya kesadaran
(pingsan). Hiperglisemia merangsang terjadinya gejala glukosuria, yaitu
ketidakmampuan ginjal untuk menyerap kembali glukosa yang telah mengalami
filtrasi melalui sel tubuh. Hormon yang mengatur kadar gula dalam darah, yaitu:
- hormon insulin, dihasilkan oleh pankreas, berfungsi menurunkan kadar glukosa dalam darah;
- hormon adrenalin, dihasilkan oleh korteks adrenal, berfungsi menaikkan kadar glukosa dalam darah.
Karbohidrat siap
dikatabolisir menjadi energi jika berbentuk monosakarida. Energi yang
dihasilkan berupa Adenosin trifosfat (ATP).
Glukosa merupakan
karbohidrat terpenting. Dalam bentuk glukosalah massa karbohidrat makanan
diserap ke dalam aliran darah, atau ke dalam bentuk glukosalah karbohidrat
dikonversi di dalam hati, serta dari glukosalah semua bentuk karbohidrat lain
dalam tubuh dapat dibentuk. Glukosa merupakan bahan bakar metabolik utama bagi
jaringan mamalia (kecuali hewan pemamah biak) dan bahan bakar universal bagi
janin. Unsur ini diubah menjadi karbohidrat lain dengan fungsi sangat spesifik,
misalnya glikogen untuk simpanan, ribose dalam bentuk asam nukleat, galaktosa
dalam laktosa susu, dalam senyawa lipid kompleks tertentu dan dalam bentuk
gabungan dengan protein, yaitu glikoprotein serta proteoglikan.
Peristiwa yang dialami
unsur-unsur makanan setelah dicerna dan diserap adalah METABOLISME
INTERMEDIAT. Jadi metabolisme intermediat mencakup suatu bidang luas yang
berupaya memahami bukan saja lintasan metabolik yang dialami oleh masing-masing
molekul, tetapi juga interelasi dan mekanisme yang mengatur arus metabolit
melewati lintasan tersebut.
Metabolisme karbohidrat pada manusia terutama:
·
Glikolisis, yaitu oksidasi glujkosa atau
glikogen menjadi piruvat dan asam laktat melalui Embden-Meyerhof Pathway (EMP).
·
Glikogenesis, yaitu sintesis glikogen
dari glukosa.
·
Glikogenolisis, yaitu pemecahan
glikogen, pada hepar hasil akhir adalah glukosa, sedangkan di otot menjadi
piruvat dan asam laktat
·
Siklus Krebs atau siklus asam
trikarboksilat atau siklus asam sitra adalah suatu jalan bersama dari oksidasi
karbohidrat, lemak dan protein melalui asetil-Ko-A dan akan dioksidasikan
secara sempurna menjadi CO2 & H2O.
·
Heksosa Monofosfat Shunt atau siklus
pentosa fosfat adalah suatu jalan lain dari oksidasi glukosa selain EMP dan
siklus Krebs.
·
Glukoneogenesis, yaitu pembentukan
glukosa atau glikogen dari zat-zat bukan karbohidrat.
·
Oksidasi asam piruvat menjadi asetil
Ko-A, yaitu lanjutan dari glikolisis serta menjadi penghubung antara glikolisis
dan siklus Krebs
Lintasan metabolisme
dapat digolongkan menjadi 3 kategori:
1. Lintasan
anabolik (penyatuan/pembentukan)
Ini merupakan lintasan yang digunakan pada
sintesis senyawa pembentuk struktur dan mesin tubuh. Salah satu
contoh dari kategori ini adalah sintesis protein.
2. Lintasan
katabolik (pemecahan)
Lintasan ini meliputi berbagai
proses oksidasi yang melepaskan energi bebas, biasanya dalam bentuk
fosfat energi tinggi atau unsur ekuivalen pereduksi, seperti rantai respirasi
dan fosforilasi oksidatif.
3. Lintasan
amfibolik (persimpangan)
Lintasan ini memiliki lebih dari satu
fungsi dan terdapat pada persimpangan metabolisme sehingga bekerja
sebagai penghubung antara lintasan anabolik dan lintasan katabolik. Contoh dari
lintasan ini adalah siklus asam sitrat.
Terdapat beberapa jalur
metabolisme karbohidrat baik yang tergolong sebagai katabolisme maupun
anabolisme, yaitu glikolisis, oksidasi piruvat, siklus asam sitrat,
glikogenesis, glikogenolisis serta glukoneogenesis.
Secara ringkas,
jalur-jalur metabolisme karbohidrat dijelaskan sebagai berikut:
1. Glukosa sebagai bahan bakar utama akan
mengalami glikolisis (dipecah) menjadi 2 piruvat jika tersedia oksigen. Dalam
tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
2. Selanjutnya masing-masing piruvat
dioksidasi menjadi asetil KoA. Dalam tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
3. Asetil KoA akan masuk ke jalur persimpangan
yaitu siklus asam sitrat. Dalam tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
4. Jika sumber glukosa berlebihan,
melebihi kebutuhan energi kita maka glukosa tidak dipecah, melainkan akan
dirangkai menjadi polimer glukosa (disebut glikogen). Glikogen ini disimpan di
hati dan otot sebagai cadangan energi jangka pendek. Jika kapasitas penyimpanan
glikogen sudah penuh, maka karbohidrat harus dikonversi menjadi jaringan lipid
sebagai cadangan energi jangka panjang.
5. Jika terjadi kekurangan glukosa dari diet
sebagai sumber energi, maka glikogen dipecah menjadi glukosa. Selanjutnya
glukosa mengalami glikolisis, diikuti dengan oksidasi piruvat sampai dengan
siklus asam sitrat.
6. Jika glukosa dari diet tak tersedia
dan cadangan glikogenpun juga habis, maka sumber energi non karbohidrat yaitu
lipid dan protein harus digunakan. Jalur ini dinamakan glukoneogenesis
(pembentukan glukosa baru) karena dianggap lipid dan protein harus diubah
menjadi glukosa baru yang selanjutnya mengalami katabolisme untuk memperoleh
energi.
Macam-Macam Proses
Metabolisme Karbohidrat
1. Glikolisis
Glikogen adalah molekul polisakarida
yang tersimpan dalam sel-sel hewan bersama dengan air dan digunakan sebagai
sumber energi. Ketika pecah di dalam tubuh, glikogen diubah menjadi glukosa,
sumber energi yang penting bagi hewan. Banyak penelitian telah dilakukan pada
glikogen dan perannya dalam tubuh ,sejak itu glikogen diakui sebagai bagian
penting dari sistem penyimpanan energi tubuh.
Glikolisis adalah sebuah rangkaian reaksi biokimia dimana glukosa dioksidasi menjadi molekul asam piruvat. Glikolisis adalah salah satu proses metabolisme yang paling universal yang kita kenal, dan terjadi
(dengan berbagai variasi) di banyak jenis sel dalam hampir seluruh
bentuk organisme. Proses glikolisis sendiri
menghasilkan lebih sedikit energi per molekul glukosa
dibandingkan dengan oksidasi aerobik yang sempurna. Energi yang dihasilkan disimpan
dalam senyawa organik berupa adenosine
triphosphate atau yang lebih umum dikenal dengan istilah ATP dan NADH
- Terjadi dalam
semua sel tubuh manusia
- Degradasi an-aerob glukosa menjadi laktat
Glikolisis berlangsung di dalam sitosol semua
sel. Lintasan katabolisme ini adalah proses pemecahan glukosa menjadi:
1. asam piruvat,
pada suasana aerob (tersedia oksigen)
2. asam laktat,
pada suasana anaerob (tidak tersedia oksigen)
Glikolisis merupakan jalur utama metabolisme
glukosa agar terbentuk asam piruvat, dan selanjutnya asetil-KoA untuk
dioksidasi dalam siklus asam sitrat (Siklus Kreb’s). Selain itu glikolisis juga
menjadi lintasan utama metabolisme fruktosa dan galaktosa.
Keseluruhan persamaan
reaksi untuk glikolisis yang menghasilkan laktat adalah:
Glukosa + 2ADP +2Pi
2L(+)-Laktat +2ATP +2H2O
Secara rinci, tahap-tahap dalam lintasan
glikolisis adalah sebagai berikut:

1.
Glukosa masuk lintasan glikolisis melalui
fosforilasi menjadi glukosa-6
fosfat dengan dikatalisir oleh enzim heksokinase atau glukokinase pada
sel parenkim hati dan sel Pulau Langerhans pancreas. Proses ini
memerlukan ATP sebagai
donor fosfat. ATP bereaksi sebagai kompleks Mg-ATP. Terminal fosfat berenergi
tinggi pada ATP digunakan, sehingga hasilnya adalah ADP. (-1P)
Reaksi ini disertai kehilangan energi bebas
dalam jumlah besar berupa kalor, sehingga dalam kondisi fisiologis dianggap
irrevesibel. Heksokinase dihambat secara alosterik oleh produk reaksi glukosa
6-fosfat.
Mg2+
Glukosa + ATP
glukosa 6-fosfat +
ADP
2.
Glukosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 6-fosfat dengan bantuan
enzim fosfoheksosa isomerase dalam
suatu reaksi isomerasi aldosa-ketosa. Enzim ini hanya bekerja pada
anomer µ-glukosa 6-fosfat.
µ-D-glukosa 6-fosfat ↔ µ-D-fruktosa 6-fosfat
3. Fruktosa
6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 1,6-bifosfat dengan bantuan enzim fosfofruktokinase. Fosfofruktokinase
merupakan enzim yang bersifat alosterik sekaligus bisa diinduksi, sehingga
berperan penting dalam laju glikolisis. Dalam kondisi fisiologis tahap ini bisa
dianggap irreversible. Reaksi ini memerlukan ATPsebagai donor fosfat, sehingga hasilnya adalah ADP.(-1P)
µ-D-fruktosa 6-fosfat +
ATP ↔ D-fruktosa 1,6-bifosfat
4. Fruktosa
1,6-bifosfat dipecah menjadi 2 senyawa triosa fosfat yaitu gliserahdehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton fosfat. Reaksi ini
dikatalisir oleh enzimaldolase (fruktosa
1,6-bifosfat aldolase).
D-fruktosa 1,6-bifosfat
↔ D-gliseraldehid 3-fosfat + dihidroksiaseton fosfat
5. Gliseraldehid
3-fosfat dapat berubah menjadi dihidroksi aseton fosfat dan sebaliknya (reaksi
interkonversi). Reaksi bolak-balik ini mendapatkan katalisator enzim fosfotriosa isomerase.
D-gliseraldehid 3-fosfat ↔ dihidroksiaseton fosfat
6. Glikolisis berlangsung melalui
oksidasi Gliseraldehid
3-fosfat menjadi 1,3-bifosfogliserat, dan
karena aktivitas enzim fosfotriosa isomerase, senyawa dihidroksi aseton fosfat
juga dioksidasi menjadi 1,3-bifosfogliserat melewati gliseraldehid 3-fosfat.
D-gliseraldehid 3-fosfat
+ NAD+ + Pi ↔ 1,3-bifosfogliserat + NADH + H+
Enzim yang bertanggung
jawab terhadap oksidasi di atas adalah gliseraldehid 3-fosfat dehidrogenase, suatu enzim yang bergantung
kepada NAD.
Atom-atom hydrogen yang dikeluarkan dari proses
oksidasi ini dipindahkan kepada NAD+ yang terikat pada enzim.
Pada rantai respirasi mitokondria akan dihasilkan tiga fosfat berenergi tinggi.
(+3P)
Catatan:
Karena fruktosa 1,6-bifosfat yang memiliki 6 atom C dipecah
menjadi Gliseraldehid 3-fosfat dan
dihidroksi aseton fosfat yang masing-masing memiliki 3 atom C, dengan demikian
terbentuk 2 molekul gula yang masing-masing beratom C tiga (triosa). Jika
molekul dihidroksiaseton fosfat juga berubah menjadi 1,3-bifosfogliserat, maka
dari 1 molekul glukosa pada bagian awal, sampai dengan tahap ini akan
menghasilkan 2 x 3P = 6P. (+6P)
7. Energi yang dihasilkan dalam proses oksidasi
disimpan melalui pembentukan ikatan sulfur berenergi tinggi, setelah
fosforolisis, sebuah gugus fosfat berenergi tinggi dalam posisi 1 senyawa 1,3 bifosfogliserat. Fosfat berenergi
tinggi ini ditangkap menjadi ATP dalam
reaksi lebih lanjut dengan ADP,
yang dikatalisir oleh enzimfosfogliserat
kinase. Senyawa sisa yang dihasilkan adalah 3-fosfogliserat.
1,3-bifosfogliserat +
ADP ↔ 3-fosfogliserat + ATP
Catatan:
Karena ada dua molekul
1,3-bifosfogliserat, maka energi yang dihasilkan adalah 2 x 1P = 2P. (+2P)
8. 3-fosfogliserat diubah
menjadi 2-fosfogliserat dengan
dikatalisir oleh enzim fosfogliserat
mutase. Senyawa 2,3-bifosfogliserat (difosfogliserat, DPG) merupakan
intermediate dalam reaksi ini.
3-fosfogliserat ↔ 2-fosfogliserat
9. 2-fosfogliserat diubah
menjadi fosfoenol piruvat
(PEP) dengan bantuan enzim enolase. Reaksi ini melibatkan dehidrasi serta pendistribusian
kembali energi di dalam molekul, menaikkan valensi fosfat dari posisi 2 ke
status berenergi tinggi.
Enolase dihambat oleh fluoride, suatu unsure yang dapat digunakan jika
glikolisis di dalam darah perlu dicegah sebelum kadar glukosa darah diperiksa.
Enzim ini bergantung pada keberadaan Mg2+ atau Mn2+.
2-fosfogliserat ↔ fosfoenol
piruvat + H2O
10. Fosfat berenergi tinggi PEP dipindahkan pada ADP oleh enzim piruvat kinase sehingga menghasilkan ATP. Enol piruvat yang terbentuk dalam
reaksi ini mengalami konversi spontan menjadi keto piruvat. Reaksi ini disertai
kehilangan energi bebas dalam jumlah besar sebagai panas dan secara fisiologis
adalah irreversible.
Fosfoenol piruvat + ADP → piruvat + ATP
Catatan:
Karena ada 2 molekul PEP maka terbentuk 2
molekul enol piruvat sehingga total hasil energi pada tahap ini adalah 2 x 1P =
2P. (+2P)
11. Jika keadaan
bersifat anaerob (tak tersedia oksigen), reoksidasi
NADH melalui pemindahan sejumlah unsure ekuivalen pereduksi akan dicegah. Piruvat akan direduksi oleh NADH menjadi laktat. Reaksi ini dikatalisir
oleh enzim laktat dehidrogenase.
Piruvat + NADH + H+ → L(+)-Laktat + NAD+
Dalam keadaan aerob, piruvat diambil
oleh mitokondria, dan setelah konversi menjadi asetil-KoA, akan dioksidasi menjadi CO2 melalui siklus asam sitrat(Siklus Kreb’s). Ekuivalen pereduksi dari reaksi
NADH + H+ yang terbentuk dalam glikolisis akan diambil oleh
mitokondria untuk oksidasi melalui salah satu dari reaksi ulang alik (shuttle).
Kesimpulan:
Pada glikolisis aerob,
energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:
- hasil tingkat
substrat : + 4P
- hasil oksidasi
respirasi : + 6P
- jumlah : 4P + 6P
= 10 P
- dikurangi untuk
aktifasi glukosa dan fruktosa 6P : – 2P
10P – 2P = 8P
Pada glikolisis anaerob,
energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:
- hasil tingkat
substrat : + 4P
- hasil oksidasi
respirasi : + 0P
- jumlah : 4P + 0P = 4P
- dikurangi untuk
aktifasi glukosa dan fruktosa 6P : – 2P
4P - 2P = 2 P
2.
Oksidasi piruvat
Dalam jalur ini, piruvat dioksidasi
(dekarboksilasi oksidatif) menjadi Asetil-KoA, yang terjadi di dalam
mitokondria sel. Reaksi ini dikatalisir oleh berbagai enzim yang berbeda yang
bekerja secara berurutan di dalam suatu kompleks multienzim yang berkaitan
dengan membran interna mitokondria. Secara kolektif, enzim tersebut diberi nama
kompleks piruvat dehidrogenase dan analog dengan kompleks µ-keto glutarat
dehidrogenase pada siklus asam sitrat.
Jalur ini merupakan penghubung antara glikolisis dengan siklus Kreb’s. Jalur ini juga
merupakan konversi glukosa menjadi asam lemak dan lemak dan sebaliknya dari
senyawa non karbohidrat menjadi karbohidrat.
Rangkaian reaksi kimia yang terjadi dalam lintasan oksidasi
piruvat adalah sebagai berikut:
1. Dengan
adanya TDP (thiamine
diphosphate), piruvat didekarboksilasi
menjadi derivate hidroksietil
tiamin difosfat terikat enzim oleh komponen kompleks enzim piruvat
dehidrogenase. Produk sisa yang dihasilkan adalah CO2.
2. Hidroksietil tiamin difosfat akan
bertemu dengan lipoamid
teroksidasi, suatu kelompok prostetik dihidroksilipoil transasetilase
untuk membentuk asetil
lipoamid, selanjutnya TDP lepas.
3. Selanjutnya dengan adanya KoA-SH, asetil
lipoamid akan diubah menjadi asetil KoA, dengan hasil sampingan berupa lipoamid tereduksi.
4. Siklus
ini selesai jika lipoamid
tereduksi direoksidasi oleh flavoprotein, yang mengandung FAD, pada
kehadiran dihidrolipoil
dehidrogenase. Akhirnya flavoprotein tereduksi ini dioksidasi oleh NAD+,
yang akhirnya memindahkan ekuivalen pereduksi kepada rantai respirasi.
Piruvat + NAD+ +
KoA → Asetil KoA + NADH + H+ + CO2
3.
Siklus Krebs
Siklus ini juga sering
disebut sebagai siklus Kreb’s dan siklus asam trikarboksilat dan berlangsung di
dalam mitokondria. Siklus asam sitrat merupakan jalur bersama oksidasi karbohidrat, lipid dan protein.
Siklus asam sitrat
merupakan rangkaian reaksi yang menyebabkan katabolisme asetil KoA, dengan
membebaskan sejumlah ekuivalen hidrogen yang pada oksidasi menyebabkan
pelepasan dan penangkapan sebagaian besar energi yang tersedia dari bahan baker
jaringan, dalam bentuk ATP. Residu asetil ini berada dalam bentuk asetil-KoA
(CH3-CO~KoA, asetat aktif), suatu ester koenzim A. Ko-A mengandung
vitamin asam pantotenat.
Fungsi utama siklus asam
sitrat adalah sebagai lintasan akhir bersama untuk oksidasi karbohidrat, lipid
dan protein. Hal ini terjadi karena glukosa, asam lemak dan banyak asam amino
dimetabolisir menjadi asetil KoA atau intermediat yang ada dalam siklus tersebut.
Selama proses oksidasi asetil KoA di dalam
siklus, akan terbentuk ekuivalen pereduksi dalam bentuk hidrogen atau elektron
sebagai hasil kegiatan enzim dehidrogenase spesifik. Unsur ekuivalen pereduksi
ini kemudian memasuki rantai respirasi tempat sejumlah besar ATP dihasilkan
dalam proses fosforilasi oksidatif. Pada keadaan tanpa oksigen (anoksia) atau
kekurangan oksigen (hipoksia) terjadi hambatan total pada siklus tersebut.
Enzim-enzim siklus asam sitrat terletak di dalam matriks mitokondria, baik dalam
bentuk bebas ataupun melekat pada permukaan dalam membran interna mitokondria
sehingga memfasilitasi pemindahan unsur ekuivalen pereduksi ke enzim terdekat
pada rantai respirasi, yang bertempat di dalam membran interna mitokondria.

Reaksi-reaksi pada
siklus asam sitrat diuraikan sebagai berikut:
1. Kondensasi
awal asetil KoA dengan oksaloasetat membentuk sitrat, dikatalisir oleh enzim sitrat sintase menyebabkan
sintesis ikatan karbon ke karbon di antara atom karbon metil pada asetil KoA
dengan atom karbon karbonil pada oksaloasetat. Reaksi kondensasi, yang
membentuk sitril KoA, diikuti oleh hidrolisis ikatan tioester KoA yang disertai
dengan hilangnya energi bebas dalam bentuk panas dalam jumlah besar, memastikan
reaksi tersebut selesai dengan sempurna.
Asetil KoA + Oksaloasetat + H2O → Sitrat +
KoA
2. Sitrat dikonversi menjadi isositrat oleh
enzim akonitase (akonitat
hidratase) yang mengandung besi Fe2+ dalam bentuk protein
besi-sulfur (Fe:S). Konversi ini berlangsung dalam 2 tahap, yaitu: dehidrasi menjadi sis-akonitat, yang
sebagian di antaranya terikat pada enzim dan rehidrasi menjadi isositrat.
Reaksi tersebut dihambat oleh fluoroasetat yang
dalam bentuk fluoroasetil KoA mengadakan kondensasi dengan oksaloasetat untuk
membentuk fluorositrat. Senyawa terakhir ini menghambat akonitase sehingga
menimbulkan penumpukan sitrat.
3. Isositrat mengalami dehidrogenasi
membentuk oksalosuksinat dengan
adanya enzim isositrat
dehidrogenase. Di antara enzim ini ada yang spesifik NAD+,
hanya ditemukan di dalam mitokondria. Dua enzim lainnya bersifat spesifik NADP+ dan
masing-masing secara berurutan dijumpai di dalam mitokondria serta sitosol.
Oksidasi terkait rantai respirasi terhadap
isositrat berlangsung hampir sempurna melalui enzim yang bergantung NAD+.
Isositrat + NAD+ « Oksalosuksinat ↔ µ–ketoglutarat
+ CO2 + NADH + H+
(terikat enzim)
Kemudian terjadi dekarboksilasi menjadi µ–ketoglutarat yang juga
dikatalisir oleh enzim isositrat
dehidrogenase. Mn2+ atau Mg2+ merupakan
komponen penting reaksi dekarboksilasi. Oksalosuksinat tampaknya akan tetap
terikat pada enzim sebagai intermediate dalam keseluruhan reaksi.
4. Selanjutnya µ–ketoglutarat mengalami
dekarboksilasi oksidatif melalui cara yang sama dengan dekarboksilasi oksidatif
piruvat, dengan kedua substrat berupa asamµ–keto.
µ–ketoglutarat + NAD+ + KoA → Suksinil
KoA + CO2 + NADH + H+
Reaksi tersebut yang dikatalisir oleh kompleks µ–ketoglutarat dehidrogenase,
juga memerlukan kofaktor yang idenstik dengan kompleks piruvat dehidrogenase,
contohnya TDP, lipoat, NAD+, FAD serta KoA, dan menghasilkan
pembentukan suksinil KoA (tioester
berenergi tinggi). Arsenit menghambat reaksi di atas sehingga menyebabkan
penumpukan µ–ketoglutarat.
5. Tahap
selanjutnya terjadi perubahan suksinil
KoA menjadi suksinat dengan
adanya peran enzim suksinat
tiokinase (suksinil KoA sintetase).
Suksinil KoA + Pi + ADP ↔ Suksinat + ATP
+ KoA
Dalam siklus asam sitrat, reaksi ini adalah
satu-satunya contoh pembentukan fosfat berenergi tinggi pada tingkatan substrat
dan terjadi karena pelepasan energi bebas dari dekarboksilasi
oksidatif µ–ketoglutarat cukup memadai untuk menghasilkan ikatan berenergi
tinggi disamping pembentukan NADH (setara dengan 3~P.
6. Suksinat dimetabolisir lebih
lanjut melalui reaksi dehidrogenasi yang diikuti oleh penambahan air dan
kemudian oleh dehidrogenasi lebih lanjut yang menghasilkan kembali
oksaloasetat.
Suksinat + FAD ↔ Fumarat + FADH2
Reaksi dehidrogenasi pertama dikatalisir oleh
enzim suksinat dehidrogenase yang
terikat pada permukaan dalam membrane interna mitokondria, berbeda dengan
enzim-enzim lain yang ditemukan pada matriks. Reaksi ini adalah satu-satunya
reaksi dehidrogenasi dalam siklus asam sitrat yang melibatkan pemindahan
langsung atom hydrogen dari substrat kepada flavoprotein tanpa peran NAD+.
Enzim ini mengandung FAD dan protein besi-sulfur (Fe:S). Fumarat terbentuk sebagai hasil
dehidrogenasi. Fumarase (fumarat
hidratase) mengkatalisir penambahan air pada fumarat untuk menghasilkan malat.
Fumarat + H2O ↔ L-malat
Enzim fumarase juga mengkatalisir penambahan
unsure-unsur air kepada ikatan rangkap fumarat dalam konfigurasi trans.
Malat dikonversikan
menjadi oksaloasetat dengan
katalisator berupa enzim malat
dehidrogenase, suatu reaksi yang memerlukan NAD+.
L-Malat + NAD+ ↔ oksaloasetat + NADH + H+
Enzim-enzim dalam siklus asam sitrat, kecuali
alfa ketoglutarat dan suksinat dehidrogenase juga ditemukan di luar
mitokondria. Meskipun dapat mengkatalisir reaksi serupa, sebagian enzim
tersebut, misalnya malat dehidrogenase pada kenyataannya mungkin bukan
merupakan protein yang sama seperti enzim mitokondria yang mempunyai nama sama
(dengan kata lain enzim tersebut merupakan isoenzim).
Energi yang dihasilkan
dalam siklus asam sitrat
Pada proses oksidasi yang dikatalisir enzim dehidrogenase,
3 molekul NADH dan 1 FADH2 akan dihasilkan untuk setiap molekul
asetil-KoA yang dikatabolisir dalam siklus asam sitrat. Dalam hal ini sejumlah
ekuivalen pereduksi akan dipindahkan ke rantai respirasi dalam membrane interna
mitokondria (lihat kembali gambar tentang siklus ini).
Selama melintasi rantai respirasi tersebut,
ekuivalen pereduksi NADH menghasilkan 3 ikatan fosfat berenergi tinggi melalui
esterifikasi ADP menjadi ATP dalam proses fosforilasi oksidatif. Namun demikian
FADH2 hanya menghasilkan 2 ikatan fosfat berenergi tinggi.
Fosfat berenergi tinggi selanjutnya akan dihasilkan pada tingkat siklus itu
sendiri (pada tingkat substrat) pada saat suksinil KoA diubah menjadi suksinat.
Dengan demikian rincian
energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat adalah:
1. Tiga molekul NADH,
menghasilkan : 3 X 3P = 9P
2. Satu molekul FADH2,
menghasilkan : 1 x 2P = 2P
3. Pada tingkat substrat
= 1P
Jumlah = 12P
Satu siklus Kreb’s akan
menghasilkan energi 3P + 3P + 1P + 2P + 3P = 12P.
Kalau kita hubungkan jalur glikolisis, oksidasi
piruvat dan siklus Kreb’s, akan dapat kita hitung bahwa 1 mol glukosa jika
dibakar sempurna (aerob) akan menghasilkan energi dengan rincian sebagai
berikut:
1. Glikolisis : 8P
2. Oksidasi piruvat
(2 x 3P) : 6P
3. Siklus Kreb’s
(2 x 12P) : 24P
Jumlah : 38P
4.
Glikogenesis
Tahap pertama metabolisme karbohidrat adalah
pemecahan glukosa (glikolisis) menjadi piruvat. Selanjutnya piruvat dioksidasi
menjadi asetil KoA. Akhirnya asetil KoA masuk ke dalam rangkaian siklus asam
sitrat untuk dikatabolisir menjadi energi.
Proses di atas terjadi jika kita membutuhkan
energi untuk aktifitas, misalnya berpikir, mencerna makanan, bekerja dan
sebagainya. Jika kita memiliki glukosa melampaui kebutuhan energi, maka
kelebihan glukosa yang ada akan disimpan dalam bentuk glikogen. Proses
anabolisme ini dinamakan glikogenesis.
Glikogen merupakan bentuk simpanan karbohidrat
yang utama di dalam tubuh dan analog dengan amilum pada tumbuhan. Unsur ini
terutama terdapat didalam hati (sampai 6%), otot jarang melampaui jumlah 1%.
Akan tetapi karena massa otot jauh lebih besar daripada hati, maka besarnya
simpanan glikogen di otot bisa mencapai tiga sampai empat kali lebih banyak.
Seperti amilum, glikogen merupakan polimer µ-D-Glukosa yang bercabang.
Glikogen otot berfungsi sebagai sumber heksosa
yang tersedia dengan mudah untuk proses glikolisis di dalam otot itu sendiri.
Sedangkan glikogen hati sangat berhubungan dengan simpanan dan pengiriman
heksosa keluar untuk mempertahankan kadar glukosa darah, khususnya pada saat di
antara waktu makan. Setelah 12-18 jam puasa, hampir semua simpanan glikogen
hati terkuras habis. Tetapi glikogen otot hanya terkuras secara bermakna
setelah seseorang melakukan olahraga yang berat dan lama.
Rangkaian proses
terjadinya glikogenesis digambarkan sebagai berikut:
1. Glukosa mengalami fosforilasi
menjadi glukosa 6-fosfat (reaksi
yang lazim terjadi juga pada lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini
dikatalisir oleh heksokinasesedangkan
di hati oleh glukokinase.
2. Glukosa 6-fosfat diubah
menjadi glukosa 1-fosfat dalam
reaksi dengan bantuan katalisator enzim
fosfoglukomutase. Enzim itu sendiri akan mengalami fosforilasi dan gugus
fosfo akan mengambil bagian di dalam reaksi reversible yang intermediatnya
adalah glukosa 1,6-bifosfat.
Enz-P + Glukosa
6-fosfat
Enz +
Glukosa 1,6-bifosfat « Enz-P + Glukosa 1-fosfat
3. Selanjutnya glukosa 1-fosfat bereaksi
dengan uridin trifosfat
(UTP) untuk membentuk uridin
difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi ini dikatalisir oleh enzimUDPGlc pirofosforilase.
UTP + Glukosa
1-fosfat ↔ UDPGlc + PPi
5.
Glikogenolisis
Jika glukosa dari diet tidak dapat mencukupi
kebutuhan, maka glikogen harus dipecah untuk mendapatkan glukosa sebagai sumber
energi. Proses ini dinamakan glikogenolisis. Glikogenolisis seakan-akan
kebalikan dari glikogenesis, akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Untuk memutuskan ikatan glukosa satu
demi satu dari glikogen diperlukan enzim fosforilase. Enzim ini spesifik untuk proses fosforolisis
rangkaian 1à4 glikogen untuk menghasilkan glukosa 1-fosfat. Residu glukosil terminal pada rantai paling luar
molekul glikogen dibuang secara berurutan sampai kurang lebih ada 4 buah residu
glukosa yang tersisa pada tiap sisi cabang 1à6.
(C6)n +
Pi → (C6)n-1 + Glukosa 1-fosfat
Glikogen Glikogen
Glukan transferase dibutuhkan sebagai katalisator pemindahan unit trisakarida dari satu cabang ke cabang lainnya sehingga
membuat titik cabang 1→6 terpajan.Hidrolisis
ikatan 1→6 memerlukan kerja enzim enzim pemutus cabang (debranching enzyme) yang
spesifik. Dengan pemutusan cabang tersebut, maka kerja enzim fosforilase
selanjutnya dapat berlangsung.
6.
Glukoneogenesis
Glukoneogenesis terjadi
jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi. Maka tubuh adalah
menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga tak tersedia, barulah
memecah protein untuk energi yang sesungguhnya protein berperan pokok sebagai
pembangun tubuh.
Jadi bisa disimpulkan
bahwa glukoneogenesis adalah
proses pembentukan glukosa dari senyawa-senyawa non karbohidrat, bisa dari
lipid maupun protein.
Secara ringkas, jalur glukoneogenesis dari bahan
lipid maupun protein dijelaskan sebagai berikut:
1. Lipid terpecah
menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan gliserol. Asam lemak dapat
dioksidasi menjadi asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA masuk dalam siklus
Kreb’s. Sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis.
2. Untuk protein,
asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke dalam siklus Kreb’s.
BAB
III
PENUTUP
III.1
Kesimpulan
·
Karbohidrat merupakan komponen pangan
yang menjadi sumber energi utama dan sumber serat makanan. Komponen ini disusun
oleh 3 unsur utama, yaitu karbon (C), hidrogen(H) dan oksigen (O). Atau dengan
kata lain, karbohidrat merupakan suatu senyawa yang terdiri dari
molekul-molekul karbon (C), hydrogen (H) dan oksigen (O) atau karbon dan hidrat
(H2O) sehingga dinamakan karbo-hidrat.
·
Metabolisme merupakan modifikasi senyawa
kimia secara biokimia di dalam organisme dan sel. Metabolisme mencakup sintesis
(anabolisme) dan penguraian (katabolisme) molekul organik kompleks.
·
Secara ringkas, jalur-jalur metabolisme karbohidrat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Glukosa sebagai bahan bakar utama akan
mengalami glikolisis (dipecah) menjadi 2 piruvat jika tersedia oksigen. Dalam
tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
2. Selanjutnya masing-masing piruvat
dioksidasi menjadi asetil KoA. Dalam tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
3. Asetil KoA akan masuk ke jalur persimpangan
yaitu siklus asam sitrat. Dalam tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
4. Jika sumber glukosa berlebihan,
melebihi kebutuhan energi kita maka glukosa tidak dipecah, melainkan akan
dirangkai menjadi polimer glukosa (disebut glikogen). Glikogen ini disimpan di
hati dan otot sebagai cadangan energi jangka pendek. Jika kapasitas penyimpanan
glikogen sudah penuh, maka karbohidrat harus dikonversi menjadi jaringan lipid
sebagai cadangan energi jangka panjang.
5. Jika terjadi kekurangan glukosa dari diet
sebagai sumber energi, maka glikogen dipecah menjadi glukosa. Selanjutnya
glukosa mengalami glikolisis, diikuti dengan oksidasi piruvat sampai dengan
siklus asam sitrat.
6. Jika glukosa dari diet tak tersedia
dan cadangan glikogenpun juga habis, maka sumber energi non karbohidrat yaitu
lipid dan protein harus digunakan. Jalur ini dinamakan glukoneogenesis
(pembentukan glukosa baru) karena dianggap lipid dan protein harus diubah
menjadi glukosa baru yang selanjutnya mengalami katabolisme untuk memperoleh energy
III.2
Saran
Saran dari para pembaca sangat
diharapkan oleh penyusun makalah sehingga dalam pembuatan makalah selanjutnya
dapat lebih baik lagi dan dapat lebih bermanfaat bagi penyusun dan pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwari. 2007. Karbohidrat.
http://www.pssplab.com/journal/03.pdf. Diakses tanggal 14 November 2012
Fedril. 2011. Biokimia. http://fedrildwi.blogspot.com/.
Diakses tanggal 15 November 2012
Fitria,Lailatul. 2012. Biokimia Karbohidrat. http://blog.ub.ac.id/. Diakses tanggal 14
November 2012
Yuyun. 2011. Absorbsi Karbohidrat dalam Tubuh. http://yu2n-sevenfoldism.blogspot.com/.
Diakses tanggal 14 November 2012